.

..

Kamis, 30 Oktober 2014

Radang selaput otak pada ternak

Uraian lengkap dapat dilihat di sini

Lembar observasi kasus kawin berulang pada sapi

Untuk mempermudah evaluasi penanganan kasus kawin berulang kita bisa mempergunakan lembar observasi. Lebih detailnya dapat dilihat di sini

Minggu, 05 Oktober 2014

Mengenal Penyakit Anthraks



Ketika kita mendengar kata anthraks, maka biasanya akan terlintas dalam benak kita tentang senjata biologis, atau penyakit berbahaya yang mengancam kehidupan. Anthraks sebenarnya adalah salah satu jenis bakteri yang umumnya ditemukan di daerah pertanian dengan tanah yang bersifat netral atau alkalis, dikenal sebagai Bacillus anthracis. Bakteri tersebut dapat membentuk spora yang dapat bertahan selama bertahun tahun di dalam tanah sehingga dapat mencemari rumput dan menjadi sumber penularan pada ternak pemakan rumput. Spora tersebut bahkan dapat dikembangbiakkan dan dijadikan senjata biologis yang berbahaya bagi manusia.

Yang menjadi perhatian kita adalah bahwa penyakit anthraks telah ditemukan di beberapa daerah di Indonesia termasuk di Kabupaten Boyolali. Sesuai dengan data dari dinas peternakan kabupaten Boyolali yang telah dikonfirmasi dan dipublikasikan secara  terbuka oleh BBVET Wates, kejadian anthraks di Boyolali terjadi pada tahun 1990, 1991, 1992, 1993, 1998, 1999, 2000, 2001, 2002, 2011, 2012.
Penyakit anthraks adalah penyakit yang berbahaya yang oleh pemerintah telah dimasukkan kedalam golongan PHMS (Penyakit Hewan Menular Strategis) karena dampak besar yang bisa ditimbulkan jika penyakit ini menyebar. Penyakit anthraks termasuk ke dalam 7 PHMS yang mendapat prioritas dalam pemberantasannya secara nasional.

Mengingat bahaya  besar yang bisa mengancam maka setiap warga negara Indonesia wajib memahami penyakit anthraks terutama yang tinggal di daerah beresiko tinggi sehingga dapat bersikap waspada. 

Gejala anthraks
Hospes utama dari bakteri anthraks adalah hewan hewan pemakan rumput (sapi, domba, kambing, kuda, unta) namun juga bisa menyerang babi dan burung unta. Hewan yang menelan spora anthraks dalam jumlah tertentu akan terinfeksi penyakit anthraks.    
Masa inkubasi penyakit anthraks adalah 3 – 7 hari (range 1 -14 hari), pada bentuk perakut, gejala kadang kurang teramati, yang sering ditemukan adalah hewan tiba-tiba mati secara mendadak. Sedang pada bentuk akut, hewan akan menunjukkan beberapa tanda-tanda seperti ruminasi (nggayemi) terhenti, produksi susu turun, keguguran (pada yang bunting), depresi, demam hingga 41.5o C, dyspnea (kesullitan bernafas), stupor (mematung), gemetar, kejang dan mati. Kadang diikuti dengan keluarnya darah berwarna merah gelap dari lubang-lubang tubuh seperti hidung, mulut, telinga dan dubur.
Setiap peternak yang menemui ternak dengan gejala seperti di atas harus segera melapor ke petugas kesehatan hewan atau puskeswan terdekat dan tidak boleh sama sekali memotong hewan tersebut karena bisa tertular jika terkena darah atau bersentuhan dengan daging yang positif anthraks dan juga bisa menjadi sumber penularan bagi ternak yang lain.

Diagnosa
Peneguhan diagnose harus dilaksanakan melalui uji laboratorium (Culture bakteri, PCR, FAS), tidak cukup berdasar gejala klinis yang muncul.  Pengujian dapat dilakukan di BBVET Wates.
Hewan ternak yang positif anthraks harus segera dibakar dan dikubur sedalam 2 meter. Lahan di sekitar tempat penguburan ditandai untuk memudahkan surveillance/pengecekan keberadaan bakteri oleh BBVET. ( bbvet wates).
Manusia yang berinteraksi dengan daging atau darah ternak yang positif anthraks baik menyentuh atau memakannya bisa tertular penyakit anthraks. Umumnya penyakit pada manusia adalah anthraks tipe kulit dan anthraks tipe pencernaan.
Kejadian anthraks pada manusia jika belum terlambat dapt diobati dengan beberapa jenis antibiotic seperti penicillin atau amoxylin.

Pencegahan
Kejadian anthraks pada ternak dapat dikendalikan dengan beberapa cara yakni vaksinasi ternak, desinfeksi kandang dengan formalin, pelaporan dan pengobatan segera setelah gejala muncul.
Pusvetma Surabaya telah memproduksi vaksin anthraks yang telah digunakan secara nasional di Indonesia termasuk di Boyolali yakni vaksin Anthravet, kegiatan vaksinasi dilakukan dengan injeksi  vaksin secara sub kutan pada ternak dan dilakukan setiap 6 bulan sekali.
Kejadian pada manusia dapat dicegah dengan tidak memotong dan mengkonsumsi ternak yang menunjukkan gejala anthraks. Di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia hal ini kadang masih kurang diperhatikan sehingga satu kejadian anthraks pada ternak biasanya diikuti dengan 10 kejadian anthraks pada manusia. Pencegahan utama kasus pada manusia adalah dengan menekankan kesadaran bahaya penyakit anthraks yang dapat dilakukan dengan penyuluhan atau penyampaian informasi secara kontinyu. Dengan perbaikan perilaku dan peningkatan pemahaman penyakit, warga masyarakat dapat turut serta membantu pemerintah dalam memberantas penyakit anthraks di Kabupaten Boyolali