Ketika kita mendengar kata
anthraks, maka biasanya akan terlintas dalam benak kita tentang senjata
biologis, atau penyakit berbahaya yang mengancam kehidupan. Anthraks sebenarnya
adalah salah satu jenis bakteri yang umumnya ditemukan di daerah pertanian
dengan tanah yang bersifat netral atau alkalis, dikenal sebagai Bacillus anthracis. Bakteri tersebut
dapat membentuk spora yang dapat bertahan selama bertahun tahun di dalam tanah
sehingga dapat mencemari rumput dan menjadi sumber penularan pada ternak
pemakan rumput. Spora tersebut bahkan dapat dikembangbiakkan dan dijadikan
senjata biologis yang berbahaya bagi manusia.
Yang menjadi perhatian kita
adalah bahwa penyakit anthraks telah ditemukan di beberapa daerah di Indonesia
termasuk di Kabupaten Boyolali. Sesuai dengan data dari dinas peternakan
kabupaten Boyolali yang telah dikonfirmasi dan dipublikasikan secara terbuka oleh BBVET Wates, kejadian anthraks
di Boyolali terjadi pada tahun 1990, 1991, 1992, 1993, 1998, 1999, 2000, 2001,
2002, 2011, 2012.
Penyakit anthraks adalah penyakit
yang berbahaya yang oleh pemerintah telah dimasukkan kedalam golongan PHMS
(Penyakit Hewan Menular Strategis) karena dampak besar yang bisa ditimbulkan
jika penyakit ini menyebar. Penyakit anthraks termasuk ke dalam 7 PHMS yang
mendapat prioritas dalam pemberantasannya secara nasional.
Mengingat bahaya besar yang bisa mengancam maka setiap warga
negara Indonesia wajib memahami penyakit anthraks terutama yang tinggal di
daerah beresiko tinggi sehingga dapat bersikap waspada.
Gejala anthraks
Hospes utama dari bakteri
anthraks adalah hewan hewan pemakan rumput (sapi, domba, kambing, kuda, unta)
namun juga bisa menyerang babi dan burung unta. Hewan yang menelan spora
anthraks dalam jumlah tertentu akan terinfeksi penyakit anthraks.
Masa inkubasi penyakit anthraks
adalah 3 – 7 hari (range 1 -14 hari), pada bentuk perakut, gejala kadang kurang
teramati, yang sering ditemukan adalah hewan tiba-tiba mati secara mendadak.
Sedang pada bentuk akut, hewan akan menunjukkan beberapa tanda-tanda seperti
ruminasi (nggayemi) terhenti,
produksi susu turun, keguguran (pada yang bunting), depresi, demam hingga 41.5o
C, dyspnea (kesullitan bernafas), stupor (mematung), gemetar, kejang dan
mati. Kadang diikuti dengan keluarnya darah berwarna merah gelap dari
lubang-lubang tubuh seperti hidung, mulut, telinga dan dubur.
Setiap peternak yang menemui
ternak dengan gejala seperti di atas harus segera melapor ke petugas kesehatan
hewan atau puskeswan terdekat dan tidak
boleh sama sekali memotong hewan tersebut karena bisa tertular jika terkena
darah atau bersentuhan dengan daging yang positif anthraks dan juga bisa
menjadi sumber penularan bagi ternak yang lain.
Diagnosa
Peneguhan diagnose harus
dilaksanakan melalui uji laboratorium (Culture bakteri, PCR, FAS), tidak cukup
berdasar gejala klinis yang muncul. Pengujian
dapat dilakukan di BBVET Wates.
Hewan ternak yang positif
anthraks harus segera dibakar dan dikubur sedalam 2 meter. Lahan di sekitar
tempat penguburan ditandai untuk memudahkan surveillance/pengecekan keberadaan
bakteri oleh BBVET. (
bbvet wates).
Manusia yang berinteraksi dengan
daging atau darah ternak yang positif anthraks baik menyentuh atau memakannya
bisa tertular penyakit anthraks. Umumnya penyakit pada manusia adalah anthraks
tipe kulit dan anthraks tipe pencernaan.
Kejadian anthraks pada manusia
jika belum terlambat dapt diobati dengan beberapa jenis antibiotic seperti
penicillin atau amoxylin.
Pencegahan
Kejadian anthraks pada ternak
dapat dikendalikan dengan beberapa cara yakni vaksinasi ternak, desinfeksi
kandang dengan formalin, pelaporan dan pengobatan segera setelah gejala muncul.
Pusvetma Surabaya telah
memproduksi vaksin anthraks yang telah digunakan secara nasional di Indonesia
termasuk di Boyolali yakni vaksin Anthravet, kegiatan vaksinasi dilakukan dengan
injeksi vaksin secara sub kutan pada
ternak dan dilakukan setiap 6 bulan sekali.
Kejadian pada manusia dapat
dicegah dengan tidak memotong dan mengkonsumsi ternak yang menunjukkan gejala
anthraks. Di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia hal ini kadang
masih kurang diperhatikan sehingga satu kejadian anthraks pada ternak biasanya
diikuti dengan 10 kejadian anthraks pada manusia. Pencegahan utama kasus pada
manusia adalah dengan menekankan kesadaran bahaya penyakit anthraks yang dapat
dilakukan dengan penyuluhan atau penyampaian informasi secara kontinyu. Dengan
perbaikan perilaku dan peningkatan pemahaman penyakit, warga masyarakat dapat
turut serta membantu pemerintah dalam memberantas penyakit anthraks di
Kabupaten Boyolali